Dari Pembelajaran Konvensional Menuju Kelas Cerdas, S2 PBA UIN Suska Riau Gelar Seminar Internasional Generative AI

PEKANBARU – Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab (S2 PBA) UIN Sultan Syarif Kasim Riau menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Masa Depan Pendidikan Bahasa Arab di Era Generative Artificial Intelligence: dari Pembelajaran Konvensional menuju Pembelajaran Cerdas” pada Rabu, 30 September 2026.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut menghadirkan dua pembicara yang berkompeten dalam bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Arab, yaitu Prof. Dr. Buhori Muslim, M.Ag., Guru Besar Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Dr. Adiel Bahry Yamani, pakar pengajaran bahasa Arab bagi penutur non-Arab dari Yaman.

Seminar internasional ini dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN Suska Riau, Dr. H. Aprijon Efendi, M.A. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi menuntut lembaga pendidikan, dosen, guru, dan mahasiswa untuk berani melakukan transformasi dalam proses pembelajaran.

“Sudah saatnya kita meninggalkan pola pembelajaran yang sepenuhnya konvensional dan mulai beralih menuju pembelajaran modern yang lebih adaptif, inovatif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi,” ujar Dr. Aprijon.

Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab. Teknologi AI dapat membantu pendidik menyusun materi, merancang media pembelajaran, memberikan umpan balik, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Buhori Muslim, M.Ag. menjelaskan bahwa terdapat beragam teknologi berbasis AI yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Pemanfaatan tersebut dapat diterapkan pada seluruh keterampilan berbahasa atau maharah, mulai dari keterampilan menyimak (maharah al-istima’), berbicara (maharah al-kalam), membaca (maharah al-qira’ah), hingga menulis (maharah al-kitabah).

Menurut Prof. Buhori, AI dapat membantu menghadirkan bahan ajar yang lebih variatif, latihan percakapan yang interaktif, koreksi tulisan, pengayaan kosakata, latihan pengucapan, penerjemahan kontekstual, serta evaluasi pembelajaran secara lebih cepat. Teknologi tersebut juga memungkinkan materi disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan belajar masing-masing peserta didik.

Meskipun demikian, penggunaan AI dalam pembelajaran tetap harus disertai kemampuan berpikir kritis. Informasi yang dihasilkan oleh teknologi perlu diperiksa kembali dari segi ketepatan bahasa, konteks, sumber, serta kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, guru tetap memegang peran utama sebagai pendidik, pembimbing, dan pengarah proses pembelajaran.

Sementara itu, Dr. Adiel Bahry Yamani menyoroti pentingnya penguasaan teknologi bagi pendidik dan pembelajar bahasa Arab pada era digital. Ia menyampaikan bahwa makna literasi telah berkembang seiring perubahan zaman.

Menurutnya, istilah ummi pada masa lalu dipahami sebagai kondisi seseorang yang tidak mampu membaca dan menulis. Namun, pada era teknologi saat ini, istilah tersebut dapat dimaknai secara lebih luas, termasuk bagi mereka yang belum mampu memahami dan memanfaatkan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa literasi digital telah menjadi salah satu kompetensi penting dalam dunia pendidikan. Guru bahasa Arab tidak cukup hanya menguasai materi dan metode mengajar, tetapi juga perlu memiliki kemampuan dalam memilih, menggunakan, serta mengevaluasi teknologi pembelajaran secara bijak.

Dr. Adiel juga menekankan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan produktivitas pendidik, bukan sebagai pengganti peran guru. Sentuhan manusia, keteladanan, nilai-nilai moral, serta interaksi emosional antara guru dan peserta didik tetap menjadi bagian yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Seminar dipandu oleh dosen S2 PBA UIN Suska Riau, Dr. Nyak Mustakim, M.Pd.I., yang bertindak sebagai moderator. Jalannya kegiatan berlangsung interaktif dan dinamis. Kegiatan ini diikuti oleh para guru besar di bidang bahasa Arab, dosen Pendidikan Bahasa Arab, mahasiswa program magister, serta guru-guru bahasa Arab dari berbagai daerah di Indonesia. Tingginya antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab. Banyak peserta mengajukan pertanyaan mengenai pemilihan perangkat AI, penerapan AI dalam pembelajaran empat keterampilan bahasa, tantangan etika, ketepatan informasi, hingga kesiapan guru menghadapi perubahan teknologi.

Melalui seminar internasional ini, Prodi S2 PBA UIN Suska Riau menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi dan transformasi pendidikan bahasa Arab. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan para akademisi, mahasiswa, dan guru sekaligus mendorong lahirnya model pembelajaran bahasa Arab yang lebih cerdas, kreatif, efektif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Seminar ini juga menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk menyadari bahwa masa depan pembelajaran bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan manusia dalam memanfaatkannya secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Dengan kolaborasi antara kompetensi guru dan kemampuan AI, pembelajaran bahasa Arab diharapkan semakin mudah diakses, menyenangkan, dan mampu menjawab tantangan pendidikan global.

Leave a Reply